Korban Cabut Laporan, Mantan Bos Allianz Urung Dipenjara

KRICOM - Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya telah menghentikan laporan terhadap dua mantan eksekutif Allianz Life, yaitu Joachim Wessling dan Yuliana Firmansyah. Penghentian ini karena pelapor mencabut laporannya. Dengan demikian, keduanya tak jadi dijemput paksa untuk menghadapi proses hukum. "Jadi penyidik sudah menerima laporan pencabutan dari korban terhadap pengaduan tersebut. Hal itulah yang menjadi dasar pertimbangan penyidik untuk menghentikan kasus tersebut," ujar Kasubdit Indag Polda Metro Jaya, AKBP Iman Setiawan di Jakarta, Jumat (10/11/2017). Dalam laporan pencarian laporan itu, pelapor tidak menjelaskan alasannya. Namun, adanya surat pencabutan ini menjadi dasar bagi penyidik menghentikan kasus itu. "Dalam pencabutan pengaduan itu, pelapor tidak mencantumkan apa dasarnya mencabut laporan. Tapi surat pencabutan itu menjadi dasar acuan kami untuk menghentikan penyelidikan terhadap dua mantan petinggi PT Allianz," ujarnya. Sementara itu, pihak Allianz membenarkan kalau kasus itu telah dihentikan alias Surat Penghentian Penyidikan Perkara (SP3) oleh pihak Kepolisian Polda Metro Jaya dengan Nomor: SPPP/192/XI/2017/Dit Reskrimsus dan Nomor: S. Tap/194/XI/2017/Dit Reskrimsus pada tanggal 9 November 2017 dan Nomor: S. Tap/195/XI/2017/Dit Reskrimsus pada tanggal 10 November 2017.

Kasus Pemerkosaan yang Menjerat Dokter Helmi akan Kembali Dibuka 

KRICOM - Tersangka pembunuhan keji, dr Ryan Helmi (41) diketahui pernah menjadi tersangka kasus pemerkosaan terhadap salah satu karyawannya beberapa waktu lalu. Namun, kasus itu dihentikan karena korban mencabut laporannya. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, polisi pun tertarik untuk membuka kembali kasus itu. Pasalnya, ada dugaan bukan hanya satu orang saja wanita yang pernah dinodai Helmi. Kapolres Metro Jakarta Timur, Kombes Andry Wibowo mengatakan, pihaknya masih mencari data-data korban, salah satunya mengenai pemeriksaan mantan karyawannya di klinik kecantikan Amalia. "Informasinya seperti itu, tapi data di kami belum ada. Kami telusuri dulu kalau ada laporan pasti akan ditelusuri," kata Andry di Jakarta, Jumat (10/11/2017). Dia tak mempermasalahkan jika korban ingin membuat laporan kembali. Hal itu untuk mempermudah penyidik melakukan penyelidikan kembali. Seperti diketahui, Helmi pernah bekerja di klinik kecantikan Amalia. Di sanalah dirinya melakukan tindak pidana perkosaan. Usai diperkosa, lanjut Sapta, korban langsung melapor ke Polres Jaktim. Tak lama, polisi langsung mencari Helmi. "Waktu kasus itu (perkosaan) dia menghilang, dan masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Belum juga tertangkap, sekarang sudah menyusul kasus kedua, yaitu pembunuhan terhadap istrinya," ungkap Kasat Reskrim Polrestro Jaktim, AKBP Sapta Maulana. Sapta juga menduga alasan inilah yang membuat Dokter Letty menuntut cerai. "Korban yang merupakan istrinya saat itu tahu pelaku dicari atas kasus pemerkosaan, mungkin karena itu istrinya menuntut cerai," ujar Sapta.

Polisi Tak Percaya dr. Helmi Bunuh Istrinya karena Dapat Bisikan Setan

KRICOM - Penyidik Polda Metro Jaya meragukan keterangan dr. Ryan Helmi (41) yang mengaku mendapat bisikan dari mahkluk gaib untuk menembak kepala istrinya, dr. Letty Sultri (48) sebanyak enam kali. Sebab dalam pengakuannya kepada pihak kepolisian, dokter spesialis kecantikan ini bisa memberikan keterangan dengan runut. Apalagi beberapa hari sebelumnya dia membeli dua pucuk senjata api dari seorang distributor. "Dia menyiapkan semua, Ditanya juga dia jawab siapa namanya siapa keluarganya semuanya lancar," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono di Jakarta, Jumat (10/11/2017). Bahkan sebelum sampai ke klinik Azzahra tempat korban bekerja, pistol revolver milik pelaku sudah diisi enam peluru. Hal ini merupakan salah satu bukti kalau Helmi sudah mempersiapkan matang rencana pembunuhan itu. "Pelaku maunya ngobrol empat mata di ruangan tetapi korban tidak mau dan akhirnya pelaku mengeluarkan senjata dari tasnya. Kemudian istrinya ini teriak dan lari ke ruangan administrasi masuk. Pelaku yang didalam langsung mengunci pintunya dan penembakan itu terjadi," tutur Argo. Konsumsi Obat Penenang Sebelum insiden pembunuhan terjadi, Helmi sempat melakukan sejumlah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) kepada sang istri selama medio Juni lalu. Selain itu, dia juga selalu mengkonsumsi obat penenang sebelum melakukan aksi. Namun polisi belum dapat memastikan jenis nama obat yang dikonsumsi Helmi. Tapi hasil tes urine menunjukkan positif mengandung obat penenang. "Ada, positif," singkat Argo. Penyidik juga belum berencana memeriksa kejiwaan Helmi lantaran tersangka menjawab seluruh pertanyaan saat dilakukan pemeriksaan. "Kepolisian punya dokter (kejiwaan) tapi saat ini belum perlu, kenapa belum perlu karena setiap jawab sesuai dengan pertanyaan penyidik," tandasnya.

Sebelum Ditembak, Dokter Letty Pernah Diancam Mau Dibakar Suami

KRICOM - Dokter Rian Helmi (41) memang sudah punya niat untuk menghabisi nyawa istrinya, dr. Letty Sultri (46). Sebab sebelum melakukan penembakan, pria yang diduga memiliki kelainan jiwa ini sempat menakut-nakuti korban dengan berbagai ancam. Maya selaku adik kandung Letty membenarkan kabar tersebut. Sebelum tewas ditembak mati, sang kakak sempat menelpon keluarga dengan nada ketakutan. Dalam perbincangan di telepon, kakaknya pernah beberapa kali mengungkap soal kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang selama ini dilakukan sang suami. Terakhir, dia pernah dipukuli hanya karena masalah sepele "Kakak saya nelepon diam-diam, ngasih tahu kalau dia dipukul, ditarik mau dibakar. Terus saya bilang sudah lah jangan dilanjutin (pernikahan). Lapor saja polisi, divisum," ungkap Maya di kediaman dr. Letty Jalan Sunan Ampel, Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat (10/11/2017). Pasca kejadian itu, Dokter Letty langsung mengajukan gugatan cerai. Tidak disangka-sangka, hal itulah yang kemudian memicu Helmi melakukan tindakan brutal dengan menembak istrinya di tempat kerja sebelum kemudian menyerahkan diri ke polisi. Dokter Letty tewas ditembak suaminya, dr Ryan Helmi, sebanyak 6 kali saat sedang berpraktik di Azzahra Medical Center, Cawang, Jakarta Timur, Kamis (10/11/2017) sekitar pukul 14.30 WIB. Penembakan tersebut dipicu gugatan cerai yang diajukan Letty. Letty merasa tidak kuat atas kekerasan yang dilakukan suaminya itu hingga akhirnya menggugat cerai. Usai melakukan penembakan, Helmi kemudian ke Polda Metro Jaya untuk menyerahkan diri. Polisi menemukan 2 pucuk senjata api di dalam tas pelaku saat itu. Senpi rakitan itu berjenis revolver. Polisi masih mengusut asal usul kepemilikan senpi tersebut.